Ibu..Renungan Kebaikan Orang Tua Vs Balasan Kita
Posted by gplat on Nov 23, 2011 in Mutiara Amaly | 0 comments
Ibu :: Mutiara Amaly :: gplat.info, Siapa orang yang selalu membanggakan kita? Siapa orang yang selalu mendoakan kita? Siapa orang yang selalu berkorban untuk kita? Siapa orang yang selalu berusaha membahagiakan kita?
Ibu
“DIA menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan”
[tiga kegelapan itu ialah kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim]
(QS. Azzumar : 06 )
Saat kita berusia 1 tahun, orang tua memandikan dan merawat kita, sebagai balasannya kita malah menangis di tengah malam.
Saat kita berusia 2 tahun, orang tua mengajari kita berjalan, sebagai balasannya kita malah kabur ketika orang tua memanggil kita.
Saat kita berusia 3 tahun, orang tua memasakkan makanan kesukaan kita, sebagai balasannya kita malah menumpahkannya.
Saat kita berusia 4 tahun, orang tua memberi kita pencil berwarna, sebagai balasannya kita malah mencoret-coret dinding dengan pencil tersebut.
Saat kita berusia 5 tahun, orang tua membelikan kita baju yang bagus-bagus, sebagai balasannya kita malah mengotorinya dengan bermain-main di lumpur.
Saat kita berusia 10 tahun, orang tua membayar mahal-mahal uang sekolah dan uang les kita, sebagai balasannya kita malah malas-malasan bahkan bolos.
Ibu
Saat kita berusia 11 tahun, orang tua mengantarkan kita kemana-mana, sebagai balasan kita malah tidak mengucapkan salam ketika keluar rumah.
Saat kita berusia 12 tahun, orang tua mengizinkan kita menonon di bioskop dan acara lain di luar rumah bersama teman-teman kita, sebagai balasannya kita malah meminta orang tua duduk di barisan lain, terpisah dari kita dan teman-teman kita.
Saat kita berusia 13 tahun, orang tua membayar biaya kemah, biaya pramuka, dan biaya liburan kita. sebagai balasannya kita malah tidak memberinya kabar ketika kita berada di luar rumah.
Saat kita berusia 14 tahun, orang tua pulang kerja dan ingin memeluk kita, sebagai balasannya kita malah menolak dan mengeluh, “Papa, Mama, aku sudah besar!”.
Saat kita berusia 17 tahun, orang tua sedang menunggu telepon yang penting, sebagai balasannya kita malah asyik menelepon teman-teman kita yang sama sekali tidak penting.
Saat kita berusia 18 tahun, orang tua menangis terharu ketika kita lulus SMA, sebagai balasannya kita malah berpesta semalaman dan baru pulang keesokan harinya.
Saat kita berusia 19 tahun, orang tua membayar biaya kuliah kita dan mengantar kita ke kampus pada hari pertama, sebagai balasannya kita malah meminta mereka berhenti jauh-jauh dari gerbang kampus dan menghardik, “Papa, Mama, aku malu! Aku kan sudah gede!”.
Ibu
Saat kita berusia 22 tahun, orang tua memluk kita dengan haru ketika kita di wisuda, sebagai balasannya kita malah bertanya kepadanya, “Papa, Mama, Mana hadiahnya? Katanya mau membelikan aku ini dan itu?”.
Saat kita berusia 23 tahun, orang tua membelikan kita sebuah barang yang kita idam-idamkan, sebagai balasannya kita malah mencela, “Duh! Kalau mau beli apa-apa untk aku, bilang-bilang dong! Aku ‘kan nggak suka model seperti ini!”.
Saat kita berusia 29 tahun, orang tua membantu membiayai pernikahan kita, sebagai balasannya kita malah pindah ke luar kita, meninggalkan mereka dan menghubungi mereka hanya dua kali setahun.
Saat kita berusia 30 tahun, orang tua memberitahu kita bagaimana cara merawat bayi, sebagai balasannya kita malah berkata “Papa, Mama, Zaman sekarang sudah beda. Nggak perlu lagi cara-cara seperti dulu!”.
Saat kita berusia 40 tahun, orang tua sakit-sakitan dan membutuhkan perawatan, sebagai balasannya kita malah beralasan, “Papa, Mama, aku sudah berkeluarga, Aku punya tanggung jawab terhadap keluargaku!”.
Ibu
Sebegitu tega, sakti dan super bodynya kita dengan semua tindakan atas semua kebaikan, keikhlasan, kerelaan dan pengorbanan yang tidak pernah kita mampu membalas atau menghitungnya. Doa, kiriman salam dan kabar bahagia alangkah indahnya bilamana kita selalu memberinya, Namun alangkah lebih indahnya bila kita tetap di sisinya, menemani, mendampingi dan membahagiakan hingga akhir hayatnya … Terima kasih Umi dan Abah, Ibu dan Ayah, Mamah dan Papap, Semoga ALLAH menempatkanmu dalam kebahagiaan, keselamatan dan perlindungan dunia akhirat [IRS].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar