Gimana kabar temen Blogger sekalian...sore ini iseng untuk membuat sebuah artikel yang sedikit membikin motivasi pada diri sendiri, alhamdulillah ingin share pada temen-temen dah....
Sebuah Kutipan artikel seorang enterpreneur yang LUAR BIASA...silahkan di baca, share, semoga bermanfaat
DENGAN MODAL Rp.10 RIBU, KINI OMZETNYA Rp.10 JUTA / HARI,
Siapa bilang tempe hanya makanan rakyat kecil? Di tangan keluarga
Muhammad Noer, tempe menjadi buah tangan khas Kota Malang bernilai jual
tinggi. Keripik Tempe Aneka Rasa menyodorkan rasa daun jeruk, keju,
barbeku, atau piza.
Produk keripik tempe aneka rasa buatan keluarga Noer sudah menyebar
seantero negeri, bahkan sudah merambah mancanegara, seperti Belanda,
Singapura, hingga Amerika Serikat.
Saat ini dalam sehari, toko oleh-oleh Kripik Tempe Aneka Rasa Bu Noer
yang terletak di Jalan Ciliwung Gang II Nomor 2, Kota Malang,
menghabiskan 1 kuintal kedelai untuk membuat tempe. Tempe dibuat sendiri
untuk menjamin kualitas rasa. Dari tempe tersebut baru diolah menjadi
keripik tempe aneka rasa. Omzet normal dalam sehari mencapai Rp 10 juta.
Nilai tersebut akan membengkak hingga tiga kali lipat saat Lebaran.
Usaha keluarga Muhammad Noer dimulai tahun 1993. Saat itu Bu Noer
(Siti Djuariyah) dan Anik Suryani (adik Bu Noer) sepakat membuat dan
menjual keripik tempe yang memang merupakan makanan khas Kota Malang.
Saat itu Siti Djuariyah adalah ibu rumah tangga, sedangkan Anik adalah
sarjana sejarah Universitas Negeri Malang yang belum bekerja.
Awal usaha hanya dikerjakan oleh tiga orang, yaitu Muhammad Noer,
Siti, dan Anik. Anik meracik bumbu, Siti mengiris tempe, dan Muhammad
Noer mengantar keripik ke warung yang dititipi -saat ia berangkat kerja
sebagai PNS di lembaga pemasyarakatan di Kota Malang.
Awalnya keluarga Noer bermodalkan Rp 10.000 per hari untuk membeli
satu bongkah tempe berukuran 50 cm x 25 cm untuk dijadikan keripik. Saat
itu, satu bungkus keripik tempe berisi lima iris keripik dijual dengan
harga Rp 500. Saat ini, keripik tempe Bu Noer dikemas per 150 gram
dengan harga Rp 5.500 untuk rasa asli dan Rp 6.900 untuk aneka rasa.
Meski perlahan, karena banyak saingan, usaha rumahan tersebut terus
berjalan. Tidak puas hanya sekadar berjalan pelan, keluarga Noer
mencoba berinovasi. Pada tahun 2000, mereka membuat keripik tempe aneka
rasa, yaitu rasa keju, barbeku, piza, ayam bawang, spageti, dan udang.
Tempe pun mulai diproduksi sendiri.
Awalnya saya ditantang oleh keluarga untuk membuat keripik tempe
yang beda dengan lainnya. Saya yang dasarnya senang memasak merasa
tertantang dan ingin membuktikan bahwa saya bisa. Lalu saya buat keripik
tempe aneka rasa, tutur Anik seperti dilansir
Kompas.com.
Anik adalah orang di balik resep dan produk Kripik Tempe Aneka Rasa
Bu Noer. Keripik tempe rasa keju, barbeku, piza, ayam bawang, spageti,
udang, dan berbagai rasa pun akhirnya lahir dari tangan Anik. Keripik
tempe aneka rasa tersebut disukai pasar.
Keinginan membuat produk berbeda, diakui Anik, dipicu oleh lokasi
usaha mereka yang masuk ke dalam gang -sejauh 500 meter dari jalan raya-
sehingga butuh produk menonjol yang memang dibutuhkan dan dicari
pembeli di mana pun lokasinya. Mereka harus bersaing dengan pusat
jajanan keripik tempe Sanan Kota Malang yang memang sudah terkenal
sebelumnya.
Merasa inovasi awal berhasil, pada tahun 2002 Anik kembali berinovasi
membuat keripik tempe rasa aneka daun, yaitu rasa daun ketumbar, daun
kucai, daun prei, daun seledri, dan kemangi. Keripik tempe aneka rasa
daun pun laris manis.
Tidak berhenti hanya membuat keripik tempe, keluarga Noer pun terus
berinovasi membuat aneka olahan tempe dan bahan lokal lain. Tahun 2002,
keluarga Noer juga memproduksi brownies tempe. Setahun kemudian, mereka
membuat cake dan roti bekatul. Semua produknya disukai pembeli.
Saya termotivasi membuat aneka olahan dari tempe dan bahan lokal
seperti bekatul karena tidak ingin tempe hanya dianggap makanan kelas
bawah. Tempe dan bekatul adalah produk lokal dengan gizi tinggi yang
juga bisa menjadi makanan menengah ke atas, ungkap Anik.
Melihat keripik tempe aneka rasa Bu Noer sukses, usaha keripik tempe
lain di Malang pun mulai mengikuti membuat produk aneka rasa. Produk
keripik tempe aneka rasa mulai ditiru pengusaha lain pada tahun 2005.
Tidak masalah ditiru orang lain karena saya tidak jual nama. Saya
menjual rasa sehingga saya berani bersaing dengan lainnya. Yang penting
saya terus berinovasi memenuhi keinginan pembeli. Dengan ditiru, artinya
produk saya disukai pasar, ujar Anik.
Usaha keluarga Noer terus berkembang. Selain Bu Noer dan Anik, adik
bungsu tiga bersaudara ini, yaitu Lilik Ismiyati, juga mulai membuat
keripik aneka buah. Keripik dibuat dan dikemas sendiri oleh Kripik Tempe
Aneka Rasa Bu Noer.
Kini, toko Kripik Tempe Aneka Rasa Bu Noer benar-benar sudah menjadi
pusat oleh-oleh khas Kota Malang. Dari awalnya hanya dikerjakan oleh
tiga orang, Kripik Tempe Aneka Rasa Bu Noer kini mempekerjakan 30
karyawan. Karyawannya berasal dari sejumlah daerah, yang ditampung di
tiga rumah produksi keripik Bu Noer. Setiap karyawan digaji sesuai Upah
Minimal Kota Malang dan diberi tempat tinggal tanpa harus kos.
Setiap karyawan harus diperhatikan dengan baik. Jika tidak dijamin
dengan baik, mereka bisa-bisa lari. Kami akhirnya akan kembali mencari
orang dan itu cukup mengganggu proses produksi sebab harus mengajari
dari awal, ujar Anik.
Saat Lebaran, keluarga Noer menambah tiga kali lipat karyawannya. Ini
karena kebutuhan produksi saat lebaran juga tiga kali lipat kebutuhan
harian.
Dari usaha rumahan kecil, Kripik Tempe Aneka Rasa Bu Noer kini
menjadi industri kecil, tempat bergantung banyak orang. Kunci
keberhasilannya, menurut Anik, adalah berinovasi dan bekerja keras.
Saya masih terus ingin berinovasi sesuai harapan pelanggan. Inovasi
dibutuhkan agar usaha ini tidak berhenti, ujarnya.
Dianggap sukses membangun usaha, keluarga Noer dipercaya pemerintah
daerah untuk memberikan pelatihan di sejumlah daerah di Jawa Timur,
mulai dari pelatihan kewirausahaan hingga mencari dan mengembangkan
potensi daerah. (as)
LA TAHZAN...