Selasa, 12 Februari 2013

Kekuatan Doa Seorang Anak Dalam Lomba


Alkisah suatu hari di sebuah sekolah, ada lomba mobil balap mainan. Pada babak final, tersisa 4 orang anak. Salah satunya bernama Benny. Dibanding semua finalis, mobil Benny paling tidak sempurna.

Saat pertandingan akhir akan dilangsungkan, Benny meminta waktu sebentar. Ia tampak komat-kamit berdoa. Lalu, tak lama kemudian, ia berkata, “Ya, aku siap!”
Dor! Tanda lomba dimulai. Dengan satu hentakan kuat, semua mobil itu pun meluncur cepat, dibantu dorongan tangan anak-anak itu. Ternyata, pemenangnya adalah Benny!
Benny maju dengan bangga saat pembagian piala. Dia sempat ditanyai pak guru, “Hai jagoan :) Kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, kan?”
Benny terdiam sejenak, lalu menjawab. “Bukan, Pak. Saya merasa kurang adil meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan teman-teman lain. Aku hanya mohon pada Tuhan, supaya aku tidak menangis jika aku kalah.”
Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.
Kita sering meminta pada Yang Maha Kuasa untuk menghalau semua halangan dan menjadikan kita “nomor satu”. Mungkin kita kurang percaya bahwa kita itu sebenarnya cukup kuat (dalam berjuang dan mampu menerima setiap kekalahan tanpa menangisi terlalu lama).
Ada baiknya, memanjatkan doa dalam ketegaran yang berserah, yakin bahwa hasil apa pun yang didapat, itulah yang terbaik saat ini—bagi kita dan di hadapanNya.

Kisah Biksu Kecil

Seorang biksu kecil yang baru ditahbis, diminta untuk mengambil air, Ia diminta untuk mengambil air di dekat sumur vihara.Ia pun pergi ke sumur dan mencoba untuk menimba sumur, namun yang didapatkannya hanyalah ember kosong tanpa ada airnya.

Semakin ditimba, semakin sia-sialah usaha mendapatkan airnya.
Semakin marah kesel dan jengkel, sumur itu tetap tidak memberikan air. Ia tidak percaya, dan mengintip ke dalam sumur. Sumur itu sangat dalam dan terlihat gelap ke dasar, hampir dipastikan tidak dapat terlihat apa yang ada di dalam sumur.
Semakin berusaha, semakin emosi, dan kesal, yang ada malah keringat membasahi tubuh dan lelah yang tersisa.
Tiba-tiba Gurunya datang, kemudian biksu kecil itu komplain pada gurunya. “Mengapa Guru tidak berkata bila sumur ini kosong, mengapa saya harus menimbanya?”
Sang Guru Balik bertanya: “Berapa kali kamu menimba?”
Biksu kecil menjawab: “Sudah banyak kali, dan sudah emosi jiwa”.
Guru: “Bila sudah tahu kosong, mengapa harus menimba? mengapa harus emosi dan mengapa menutup indra kesadaranmu?”
“PLAK”
Kepala biksu kecil itu dipukul dengan tongkat.
“Lihat ke samping sumur itu, disana ada kran air dari pompa sumur, tinggal dibuka krannya airpun mengalir, Aku suruh kamu mengambil air di dekat sumur, bukan menimba sumur!”
Seketika wajah biksu kecil itu merah padam…
Ia merasa sudah membuang-buang energi dan emosinya hanya karena tidak ada usaha untuk membuka ‘kesadaran’.
Bagaimana dengan Anda sekalian? Apakah dari awal membaca Anda memiliki pikiran yang sama seperti biksu kecil itu?

Hikmah apa yang didapat dari cerita di atas :

Sering kita marah tanpa alasan, emosi jiwa, padahal duduk persoalannya disebabkan oleh karena kita sok tahu, sok yakin benar, dan tidak mau tahu.Akhirnya kita menyalahkan kondisi yang ada, padahal yang perlu diperiksa adalah otak kita sendiri.
Jika Anda menghadapi masalah dan merasa stuck, bukalah mata hati Anda dan cari solusi lain. Atau, apakah Anda harus di ‘PLAK’ dulu seperti biksu kecil tadi :)